Bab Tujuh Belas: Bubuk Yin-Yang (Bagian Pertama)
Bagi Lin Dao, Gedung Hua Man Lou sudah seperti rumah sendiri. Tentu saja, kedatangannya ke sini bukan untuk bersenang-senang; baginya, para pelacur di rumah bordil bahkan tidak ada apa-apanya dibandingkan dengan pelayan yang menyapu lantai di taman istana. Setelah melewati bangunan utama, Lin Dao masuk ke taman belakang gedung tersebut dan menaiki sebuah paviliun kecil yang baru saja dibangun dan belum dibuka untuk umum.
Beberapa menit setelah Lin Dao masuk, sesosok tubuh berjubah hitam datang dengan senyap.
"Tuan, ada keperluan apa Anda memanggil hamba?" Sosok itu membuka tudung jubahnya, memperlihatkan wajah yang elok.
"Apakah beberapa hari ini kau melayani seorang pria bermarga Wei?"
"Ya." Di depan para pemuda tampan, Yun Zhu tampak seperti rembulan di langit atau bidadari di istana bulan. Namun, di hadapan Lin Dao yang memberinya segalanya, Yun Zhu hanyalah seorang budak wanita yang tidak berarti.
"Siapa nama lengkapnya?" Dalam ingatan Lin Dao, tidak banyak orang bermarga Wei di zaman Tiga Kerajaan. Jika dia bisa bersikap begitu angkuh, kemungkinan besar dia berasal dari keluarga Wei di Hedong. Keluarga Wei adalah klan besar yang bermula dari Jenderal Besar Wei Qing dari Dinasti Han yang telah runtuh, dan kemudian melahirkan Permaisuri Wei Zifu, sehingga memiliki akar yang sangat kuat. Terutama di dunia ini, sepengetahuan Lin Dao, keluarga Wei memiliki kedudukan yang sangat penting di Negara Wei. Bisa dikatakan, jika keluarga Wei menghentakkan kaki, seluruh Negara Wei akan bergetar.
"Pria itu bermarga Wei, bernama Mou," jawab Yun Zhu.
"Wei Mou?" Lin Dao sedikit terkejut; dia belum pernah mendengar nama itu. Setelah berpikir sejenak, dia bertanya lagi, "Apakah dia punya nama kehormatan?"
"Ada, namanya Zhongdao."
"Benar, Wei Zhongdao!" Senyum akhirnya muncul di wajah Lin Dao. "Sampai sejauh mana hubunganmu dengannya?"
"Hamba sudah membawanya ke kamar pribadi sebanyak tiga kali, namun tidak membiarkannya mendapatkan apa yang dia inginkan. Tuan pernah berkata, semakin sulit seorang pria mendapatkan wanita, semakin besar rasa penasarannya." Saat berbicara dengan Lin Dao, Yun Zhu tidak berani lalai sedikit pun. Dia adalah hasil binaan Lin Dao dan sangat memahami metode tuannya itu.
"Hmm, bagus. Jika begitu, malam ini turutilah keinginannya."
"Baik." Bisa bercinta dengan pria setampan itu adalah impian Yun Zhu.
"Namun, kau harus membakar ini di dalam kamar." Lin Dao mengeluarkan botol porselen putih dari balik pakaiannya dan memberikannya kepada Yun Zhu. "Sebelum dia masuk kamar, bakarlah bubuk di dalam botol ini bersama dupa. Jangan khawatir, dupa ini hanya berefek pada pria, bagimu justru hanya akan memberikan manfaat tanpa efek samping."
"Nyawa hamba milik Tuan. Jika Tuan memerintahkan hamba untuk mati sekarang pun, hamba tidak akan mengeluh," ujar Yun Zhu dengan ekspresi serius