Bab 148: Ancaman dari Wei Yong
Wei Yong duduk di kursi kehormatan, menikmati teh tanpa bersuara.
Adapun pendekar pedang asal Negeri Qi, Lin Zhengping, saat ini berdiri dengan tenang di samping. Tangan kirinya memegang pedang, sementara tangan kanannya ditarik ke belakang, dengan kelima jarinya terus bergerak-gerak.
Terdorong oleh perasaan di dalam hatinya, ia tampak begitu bersemangat sekaligus gugup.
Tidak butuh waktu lama.
Dari luar ruang kerja, terdengar suara seorang pria yang sedang melapor.
"Melapor kepada Direktur Agung, prajurit Si Yuan telah tiba."
"Silakan masuk!"
Wei Yong meletakkan cangkir teh di tangannya, menghentikan lamunannya.
"Cicit...!"
Pintu ruang kerja didorong terbuka dari luar.
Tak lama kemudian, Si Yuan yang mengenakan pakaian ningrat Negeri Wei melangkah seorang diri memasuki ruang kerja pribadi Wei Yong. Pintu itu kembali ditutup rapat oleh orang yang mengantarnya.
"Si Yuan, pemimpin pasukan lima ratus prajurit Wei, menghadap Direktur Agung."
Si Yuan merangkapkan kedua tangannya dengan hormat ala Negeri Wei untuk memberi salam kepada Wei Yong.
"Masa muda memang masa yang menyenangkan, silakan duduk." Wei Yong tertawa kecil seolah-olah tidak mengetahui apa pun, lalu memerintahkan dengan santai, "Kemarai, sajikan teh."
Si Yuan langsung mengambil tempat dan berlutut di atas kursi empuk di sisi ruangan.
Ia menoleh ke arah Wei Yong dan bertanya dengan nada penasaran, "Entah apa tujuan Direktur Agung Wei memanggil bawahan ini datang ke sini? Adakah urusan penting yang ingin dibahas?"
"Tidak usah terlalu sungkan, santai saja." Wei Yong mengulurkan tangan untuk membelai janggut panjang di dagunya, menampilkan senyuman ramah dan penuh kehangatan. "Memanggilmu kemari hari ini bukanlah untuk urusan yang penting."
"Hanya saja, orang tua ini ingin melihat dengan mata kepala sendiri, seperti apakah kehebatan dari bintang baru di jajaran prajurit dalam beberapa tahun terakhir ini."
"Begitu melihatmu hari ini, kau benar-benar luar biasa."
"Pujian Direktur Agung terlalu berlebihan." Si Yuan membalas salam itu sambil meraba-raba maksud tersembunyi dari lelaki tua ini.
Ia hanya bisa bersiap menghadapi segala kemungkinan.
"Mari kita lihat dulu apa yang hendak dilakukannya. Lagipula, sekarang aku bisa mengabaikan ancaman ribuan pasukan dan sudah lebih dari cukup untuk melindungi diri sendiri."
Tepat saat ia sedang merenung dalam diam.
Seorang pelayan wanita berparas jelita yang mengenakan gaun hijau tipis mendekat sambil membawa sebuah nampan, lalu meletakkan cangkir teh yang ada di atasnya ke atas meja kayu di hadapan Si Yuan.
Setelah itu, ia membungkuk hormat dengan anggun dan perlahan-lahan mundur tanpa bersuara.
Si Yuan tanpa sadar menghirup aroma sejenak.
Melalui aroma teh yang samar dan mengepul tipis, insting primitif dari tubuhnya yang tajam telah mendeteksi sedikit kejanggalan yang hampir tak kasat mata.
"Teh ini beracun!"
"Naluri insting binatang buas benar-benar menakutkan dan begitu tajam."
Wajah Si Yuan tetap tenang seolah-olah tidak merasakan apa-apa.
Baginya, racun dalam teh itu hanyalah masalah sepele.
"Pasukan Wei adalah fondasi utama serta pilar penyangga Negeri Wei. Di tengah dunia yang kacau ini, tanpa kerja keras para prajurit, Negeri Wei tidak akan pernah ada."
Wei Yong memasang raut wajah khidmat dan mengangkat cangkir teh miliknya sendiri.
Ia mengarahkannya dari jarak jauh kepada Si Yuan sebagai gestur penghormatan.
"Aku tahu kau seorang prajurit, dan tidak diperkenankan minum sembarangan."
"Oleh karena itu, orang tua ini menggantikan anggur dengan teh di sini, mewakili Negeri Wei dan rakyat jelata Negeri Wei."
"Aku bersulang dengan secangkir teh ini untuk para prajurit."
"Bawahan ini berterima kasih kepada Direktur Agung atas perhatiannya kepada para prajurit."
Si Yuan membalas penghormatan itu dengan cara yang sama.
Kemudian, ia langsung mengangkat cangkir teh yang ada di hadapannya, saling bersulang jarak jauh dengan sang Direktur Agung tanpa ragu sedikit pun.
Begitu mengangkat cangkir teh itu, ia mendongak dan meneguknya hingga tandas dalam sekali teguk.
"Hm?"
"Teh yang diberi racun ini rasanya lumayan enak juga, entah racun jenis apa ini?"
Setelah meletakkan kembali cangkir teh yang kini sudah kosong, Si Yuan tanpa sadar mengecap-ngecap bibirnya.
Ia merasa seolah-olah ada rasa yang tertinggal di dalam mulutnya.
Di kursi utama ruang kerja.
Begitu melihat Si Yuan telah meminum teh beracun yang telah ia siapkan khusus, sudut bibir Wei Yong langsung terangkat, memunculkan seulas senyum tipis yang hampir tak terlihat.
Saat ia meletakkan cangkirnya ke atas meja.
Ekspresi di wajah tuanya telah kembali normal seperti sediakala.
"Memanggilmu ke mari kali ini bukan hanya untuk itu, masih ada satu urusan penting lagi yang harus kaulakukan." Wei Yong melirik sekilas, lalu mengalihkan pandangannya kepada Lin Zhengping.
Lin Zhengping langsung tanggap.
Ia buru-buru melangkah maju untuk mengambil bilah-bilah bambu yang dicurinya dari Kediaman Kaum Terdidik Saint Shengxian di Negeri Qi, membawanya ke hadapan Si Yuan, lalu melemparkannya begitu saja.
Di wajahnya tanpa sadar tersungging senyuman ejekan yang penuh rasa bangga.
"Terimalah!"
"Kukuhkan niatmu untuk membacanya baik-baik, karena ini menyangkut nyawamu sendiri."
"Siapa lagi orang ini? Aku sama sekali tidak mengenalnya." Meskipun merasa heran di dalam hati, Si Yuan sama sekali tidak mempedulikan senyuman sombong itu. Ia mengulurkan tangan dan memungut gulungan bilah bambu dari atas meja kayu.
Lalu membentangkannya dan membacanya dengan teliti.
"Ternyata ini adalah catatan nyata tentang mata ganda milik Hui, tokoh dari mazhab Konfusianisme."
"Tidak hanya mencatat kondisi mata ganda Hui secara pribadi, catatan ini juga memuat beberapa metode untuk mengenalinya. Kalau begitu... Wei Yong meracuniku, lalu memperlihatkan benda ini padaku."
"Sebenarnya dia sedang mengancamku, ya?"
Si Yuan menutup kembali gulungan bilah bambu itu dan meletakkannya di atas meja kayu di depannya.
Ia menoleh untuk menatap Wei Yong yang duduk di kursi utama.
"Entah instruksi apa lagi yang dimiliki oleh Direktur Agung Wei?"
"Kau adalah pemilik mata ganda, bukan bermata beda warna, bukankah begitu yang dikatakan oleh orang tua ini?" Wei Yong menatap Si Yuan, tidak lagi menutupi niat aslinya.
Ia tampak sangat percaya diri dan memegang kendali penuh.
"Setelah membaca gulungan bilah bambu itu, kau pasti tahu apa arti sesungguhnya dari mata ganda."
"Itu adalah tanda fisik para orang suci dan penguasa."
"Begitu hal ini diketahui oleh Baginda Raja, bukan hanya kau yang akan mati, gurumu Jin Wen juga akan mati, saudari seperguruamu Mei Sanniang dan saudaramu Wushuang Gui juga akan mati."
"Termasuk adik perempuanmu Yun Ji, pelayan pribadimu, bahkan seluruh orang yang ada di dalam Sekte Lapis Baja."
"Mereka semua akan mati gara-gara mata gandamu itu."
Wei Yong memandang Si Yuan sambil menyunggingkan senyuman licik di wajah tuanya.
"Tetapi sekarang!"
"Kabar ini hanya diketahui oleh aku, dia, dan dirimu sendiri."
"Selama kau mau melakukan satu hal untukku, orang tua ini bisa melupakan masalah ini, bahkan...!" Wei Yong tiba-tiba mengangkat tangannya, menunjuk ke arah Lin Zhengping, lalu berkata dengan senyum licik, "Membantumu melenyapkannya!"
"Sehingga tidak ada orang lain di dunia ini yang mengetahuinya."
"Direktur Agung, Anda...!" Mendengar kata-kata itu, ekspresi ketidakpercayaan langsung terukir di wajah Lin Zhengping.
Ia tahu situasinya sudah gawat.
Tepat saat ia bersiap menghunus pedang panjangnya untuk mengancam Wei Yong.
Lin Zhengping tiba-tiba merasakan tubuhnya lemas tak bertenaga, membuat pedang besi di tangannya terlepas begitu saja dan jatuh ke lantai dengan suara berdenting nyaring.
"Bruk...!"
Tubuhnya yang jangkung ambruk tak berdaya ke atas lantai.
Sepasang mata yang tadinya dipenuhi rasa bangga dan khayalan kini dipenuhi oleh kengerian dan ketakutan, serta menyisakan penyesalan dan kepedihan yang mendalam.
"Kau... ternyata juga meracuniku!"
"Wei Yong!"
Wei Yong bahkan tidak melirik Lin Zhengping yang terjatuh lemas di lantai, tatapannya terus tertuju pada Si Yuan.
Wajahnya menunjukkan ekspresi seolah segala sesuatunya berada dalam genggamannya.
"Sebenarnya, bukan hanya dia yang terkena racun."
"Teh yang kauminum tadi juga beracun. Dan satu-satunya penawar racun itu ada padaku."
"Selama kau bersedia patuh...."
Ia memandang Si Yuan, melontarkan ancaman lewat kata-kata.
"Aku tahu teh tadi beracun, makanya aku percaya pada ucapanmu." Si Yuan mengangguk tenang sambil menatap Wei Yong.
Di wajahnya tiba-tiba muncul ekspresi sungkan yang dibuat-buat.
"Direktur Agung, apakah masih ada teh seperti tadi?"
"Bolehkah kau menuangkan satu cangkir lagi untukku? Rasanya lumayan enak..."