Bab 164: Kejatuhan
Burung raksasa di langit menyadari bahwa Luo Kai berniat melarikan diri ke dalam sungai. Lebar Sungai Nilong yang hampir seratus meter itu bahkan tidak sebanding dengan bentang sayapnya. Burung itu kembali mengepakkan sayapnya, memiringkan tubuhnya untuk menukik turun. Sepasang sayapnya yang warna-warni memancarkan cahaya keemasan pucat, menyerupai gumpalan awan warna-warni yang sangat indah dan bersiap menyentuh tanah.
Kulit Luo Kai terasa mati rasa gelombang demi gelombang. Tubuhnya tiba-tiba terhenti dan terbanting keras ke tanah. Ia merasakan seolah-olah ruang di sekitarnya telah membeku, membuatnya sama sekali tidak bisa bergerak barang sedikit pun.
Melihat cakar raksasa burung aneh itu hendak menyambar, energi darah di dalam tubuhnya bergolak membara. Ia mengayunkan pisaunya untuk menebas ke depan. Segala kekuatannya, bahkan seluruh esensi dan jiwanya, terkonsentrasi dalam satu tebasan ini. Bilah Pemutus kembali memadatkan cahaya pisau hitam sepanjang hampir dua meter. Disertai suara retakan yang tajam, pembekuan ruang yang tak kasat mata itu berhasil ditebas hingga terbelah.
Tubuhnya melesat cepat ke depan dan langsung menerobos masuk ke dalam Sungai Nilong. Air sungai di atas kepalanya berdesis tanpa henti, diselimuti uput air yang mengepul. Itu adalah ulah burung raksasa yang melampiaskan kemarahannya dengan melepaskan gelombang api ke arah sungai.
Burung raksasa itu mengibaskan sayapnya dan membumbung tinggi ke angkasa. Baginya, manusia di hadapannya hanyalah seekor serangga yang sedikit lebih besar. Jika bisa dibunuh, itu bagus; jika tidak bisa dibunuh pun bukan masalah besar. Ia sama sekali tidak berniat membiarkan aliran air kotor mengotori bulu-bulunya.
Luo Kai menyelam mengikuti arus sungai ke bawah, secara diam-diam memunculkan kepalanya setiap beberapa saat. Ia baru merangkak naik ke daratan setibanya di tepi laut, lalu membaringkan kedua anak perempuan di dalam pelukannya di atas tanah. Kedua anak perempuan itu jatuh pingsan akibat tekanan mental dari makhluk buas yang kuat tersebut. Pernapasan mereka masih cukup stabil dan nyawa mereka tidak terancam, hanya saja rambut dan pakaian mereka tampak ikal akibat terpanggang suhu tinggi.
Tidak lama kemudian, keduanya sadar dan tampak kebingungan. Bagi mereka, gempa bumi tadi terasa seperti sebuah mimpi.
Xiao Zhuo bangkit berdiri dan memandang sekeliling dengan bingung. "Kakak Besar, apa yang terjadi? Kenapa kita bisa sampai di tepi laut?"
Luo Kai menghela napas pelan dan menceritakan apa yang baru saja terjadi kepada mereka berdua.
Kedua anak perempuan itu baru sadar bahwa semua itu bukanlah mimpi. Genangan air mata langsung berputar di pelupuk mata mereka. Xiao Zhuo bahkan berjongkok di tanah dan menangis sejadi-jadinya, tersedu-sedu hingga kehabisan napas.
Luo Kai juga tidak tahu bagaimana cara menghibur mereka. Intensitas gempa bumi tadi sangat tinggi, dan apakah orang biasa bisa bertahan hidup sepenuhnya bergantung pada keberuntungan, sementara harapan itu sendiri sangat tipis.
Er Ya menyeka air mata di sudut matanya, lalu bangkit berdiri dan berkata, "Paman, ayah dan kakakku masih berada di dalam kota. Aku harus kembali untuk menyelamatkan mereka."
Luo Kai menggelengkan kepala dan berkata, "Kita tidak boleh kembali sekarang. Kita belum tahu apakah kedua makhluk buas itu sudah pergi atau belum."
Suara itu baru saja reda ketika tiba-tiba ia melihat sekelompok awan gelap melayang di atas permukaan laut. Setelah diperhatikan dengan seksama, itu sama sekali bukan awan gelap, melainkan jutaan burung terbang beraneka bentuk. Ukuran tubuh mereka jauh lebih besar daripada burung laut biasa, dan mereka terbang bergerombol menuju daratan.
Wajah Luo Kai berubah drastis. Ia buru-buru menarik kedua anak perempuan itu untuk bersembunyi di dalam rerumputan laut di dekat sana.
Negara Xingma diserang secara besar-besaran oleh makhluk buas. Dua ekor makhluk buas bentuk sempurna menghancurkan tiga kota manusia dalam sekejap, yang semuanya merupakan wilayah kabupaten dengan populasi terbanyak. Disusul kemudian oleh makhluk buas dan organisme mutan yang tak terhitung jumlahnya dari berbagai jenis. Sebagian terbang dari laut, sebagian lagi dari Pegunungan Kabut. Sebagian besar wilayah negara Xingma langsung jatuh dalam sekejap. Negara yang telah menikmati kedamaian selama hampir seratus tahun ini berubah menjadi arena berburu bagi makhluk buas.
Respons dari negara-negara aliansi manusia lainnya bisa dibilang sangat cepat. Pasukan bantuan yang tiba paling awal adalah Pasukan Jingnan dari Daerah Militer Pusat Negara Superior Dongyuan. Sepuluh ribu prajurit langit tiba di Prefektur Jinlan, ibu kota Negara Xingma. Pada saat yang sama, Akademi Ilmu Pengetahuan Mekanik Negara Superior Dongyuan juga mengerahkan pesawat angkut untuk mengirimkan beberapa meriam raksasa yang mampu menembakkan senjata energi kuat guna mempertahankan wilayah secara bersama-sama.
Hanya senjata energi kuat yang dapat menimbulkan ancaman bagi makhluk buas bentuk sempurna, tetapi itu pun hanya sebatas bertahan dan tidak memiliki kemampuan untuk menyerang. Pasalnya, makhluk buas bentuk sempurna telah berada di puncak evolusi spesies bumi. Mereka memiliki kemampuan indra bahaya yang luar biasa. Segala sesuatu yang dapat mendatangkan ancaman bagi diri mereka sendiri akan dirasakan seketika, atau yang dalam legenda disebut sebagai kemampuan menghindari malapetaka dan mencari keberuntungan.
Selain itu, tubuh mereka sangat keras. Tidak banyak benda di dunia ini yang dapat melukai mereka, dan segala jenis cedera dapat pulih dalam sekejap mata. Makhluk buas jenis terbang bahkan mampu melintasi ribuan mil dalam sekejap, membuat senjata teknologi sama sekali tidak dapat mengunci target mereka. Jenis makhluk buas lainnya juga memiliki keunggulan mematikan masing-masing. Begitu mereka naik tingkat ke bentuk sempurna, mereka akan memiliki kemampuan untuk mengendalikan kekuatan alam semesta, seperti memicu gempa bumi, mengendalikan badai, atau mendatangkan hawa dingin yang ekstrem.
Selama ratusan tahun perang antara manusia dan makhluk buas, jumlah makhluk buas bentuk sempurna yang berhasil dibunuh dapat dihitung dengan jari. Semuanya membutuhkan partisipasi lima hingga enam ahli seni bela diri yang kuat, yang dipadukan dengan senjata energi kuat agar memiliki peluang untuk membunuh mereka, dan itu pun memerlukan faktor keberuntungan yang sangat besar. Jika makhluk buas bentuk sempurna bertekad bulat untuk melarikan diri, kemungkinan untuk mencegat mereka sangatlah kecil.
Negara Xingma tiba-tiba kemunculan dua ekor makhluk buas bentuk sempurna, yang berarti wilayah ini telah sepenuhnya jatuh dan manusia tidak lagi memiliki kemungkinan untuk merebutnya kembali.
Menjelang malam, Luo Kai membawa Xiao Zhuo dan Er Ya berjalan dengan hati-hati menuju Kota Longyang. Mereka melihat banyak organisme mutan beraneka bentuk. Luo Kai berusaha semaksimal mungkin untuk menghindari mereka, dan baru akan bertindak membunuh jika benar-benar tidak ada jalan lain.
Sepanjang perjalanan, mereka melihat kendaraan yang terbalik, bangunan yang runtuh, serta bangkai-bangkai yang telah dikuliti bersih di mana-mana. Hingga saat ini, ia akhirnya menyadari bahwa di antara manusia dan makhluk buas, memang hanya ada satu pihak yang dapat bertahan hidup di dunia ini.
Semakin dekat dengan kota, semakin banyak pula berbagai jenis organisme mutan. Luo Kai menghentikan langkahnya. Jika ia sendirian, ia tentu saja bisa bertarung kapan pun ia mau dan melarikan diri kapan pun ia suka. Namun, di belakangnya mengikuti dua gadis kecil yang belum pernah mengalami pertarunagn sama sekali. Jika mereka terus masuk lebih dalam, begitu mereka memicu kawanan organisme mutan, keselamatan kedua gadis itu tidak akan bisa dijamin.
Xiao Zhuo sudah pucat pasi karena ketakutan. Meskipun hatinya sangat takut, ia jauh lebih mengkhawatirkan keselamatan orang tua dan keluarganya. Melihat hal itu, ia bertanya dengan hati-hati, "Kakak Besar, ada apa?"
Luo Kai berkata dengan suara berat, "Aku akan mencarikan kalian tempat yang aman untuk tinggal. Ingat, jangan mengeluarkan suara apa pun."
Xiao Zhuo ingin membuka mulutnya, tetapi melihat ekspresi wajah Luo Kai yang serius, ia tidak berani berkata apa-apa. Er Ya memiliki kematangan mental yang lebih baik. Ia tahu bahwa kehadiran mereka berdua jika ikut hanya akan menjadi beban yang tidak berguna, dan justru akan membuat Luo Kai terganggu. Oleh karena itu, ia menggandeng tangan Xiao Zhuo dan berkata dengan suara pelan, "Dengarkan apa kata Kakak Besar."
Luo Kai mencari sebuah ruang bawah tanah yang masih utuh di pinggiran kota, meninggalkan kepompong ratu serangga di sana, dan berpesan, "Kalian akan aman selama bersembunyi di dalam sini. Jangan keluar apa pun yang terjadi."
Sebelum pergi, ia teringat sesuatu dan mencabut belati militer dari betisnya. Sejak memiliki Bilah Pemutus, ia sudah jarang menggunakan belati militer tersebut. Keterampilan bertarungnya terutama berasal dari Tinju Naga Perkasa, yang sangat dipengaruhi oleh esensi menaklukkan musuh dengan kekuatan dalam Tinju Naga Perkasa. Setelah memahami Tenaga Gelombang Canglang, ia bahkan mengerahkan segala cara untuk memaksimalkan kekuatannya hingga titik ekstrim. Sementara itu, keterampilan penggunaan belati militer lebih mengandalkan ketangkasan, yang kurang cocok dengan gaya bertarungnya saat ini.
Ia menyerahkan belati militer itu kepada Er Ya dan berkata, "Er Ya, jika kalian benar-benar menghadapi bahaya, gunakan teknik pengerahan tenaga Tinju Naga Perkasa yang sudah kuajarkan untuk menghadapi musuh. Jangan takut. Selain fisik kita, hal terbesar yang mempengaruhi kekuatan tempur kita sebagai manusia adalah tekad. Selama kalian bisa mengalahkan rasa takut, kekuatan kalian akan berlipat ganda."
Er Ya menerima belati militer itu dan mengangguk penuh tekad.
Luo Kai pergi dengan ringan, merendahkan frekuensi detak jantungnya, dan berjalan menyelinap menuju Kota Longyang. Di dalam kota, selain organisme mutan, terdapat pula banyak makhluk buas, meskipun tingkat kultivasi mereka tidak tinggi dan kebanyakan adalah makhluk buas dalam masa pertumbuhan yang setara dengan seniman bela diri tingkat tinggi manusia. Mereka memiliki kesadaran teritorial yang sangat kuat. Begitu ada makhluk buas lain yang mendekat, mereka akan memamerkan taring dan menggeram untuk menakut-nakuti. Jika gertakan itu gagal, mereka akan saling menerkam dan bertarung.
Makhluk buas memiliki tingkat kecerdasan yang sangat tinggi, sama seperti manusia. Mereka tidak akan memperluas populasi secara membabi buta seperti hewan biasa, melainkan masing-masing menduduki wilayah tertentu, memelihara organisme di dalam wilayah mereka, dan menjaga keseimbangan rantai makanan di wilayah tersebut.
Dahulu kala, bagi makhluk lain di dunia ini, manusia bagaikan dewa yang dapat membunuh dan merampas sesuka hati. Dan kini, hal yang sama juga berlaku bagi makhluk buas terhadap manusia.