Seratus Empat Puluh Sembilan: Senjata Dewa
Kaki Gunung Gengmang jaraknya tidak sampai tujuh puluh atau delapan puluh li dari Kabupaten Hedong. Hanya dalam waktu setengah hari, kereta kuda itu pun memasuki Kabupaten Hedong.
Di dalam kereta, Jiang Dongjun melihat pemandangan di pinggir jalan yang dipadati keramaian bagaikan naga. Panji-panji berkibar, gedung-gedung opera, rumah gadai, kedai teh, dan rumah arak berderet rapi tanpa putus. Di pinggir jalan, para pemuda berpakaian mewah dan wanita berbusana sutra saling melempar canda tawa dengan berani.
Ia pun tidak kuasa menghela napas dan berkata, "Tak disangka dunia fana kini telah berubah menjadi rupa seperti ini. Kudengar Kota Xinling jauh lebih makmur lagi, aku jadi ingin pergi melihatnya sekarang juga. Namun, kau bilang dirimu telah mendatangkan banyak masalah di luar, kelak kau harus lebih waspada dan berhati-hati, jangan seperti orang yang bermarga Zhao itu, yang langsung lenyap tanpa kabar."
"Dongjun, kau pergilah ke Tanah Ke-urian Timur, kau harus lebih berhati-hati dariku," ucap Li Buzhuo sambil mengibaskan cambuk kuda.
Beberapa hari ini, setelah membolak-balik catatan pegunungan dan lautan koleksi Yao Kan di kedai anggur, barulah ia tahu bahwa Tanah Ke-urian Timur terletak di luar Enam Belas Provinsi Fuli, tempat yang begitu misterius serta berbahaya, dan tak seorang pun dapat menduganya.
Jiang Dongjun mengangguk pelan, lalu berkata lagi, "Sebenarnya ada satu hal yang ingin kutanyakan nanti, tetapi aku tidak menyangka akan secepat ini meninggalkan Gunung Gengmang. Jika aku tidak mengatakannya sekarang, kuhawatir nanti sudah terlambat. Sudkahkah kau bersedia menjadi utusanku di dunia fana? Jika kau bersedia, aku akan mewariskan seluruh ilmu dewa yang kupunya kepadamu."
Li Buzhuo tertegun sejenak. Hatinya merasa tertarik sekaligus ragu. Sebagai reinkarnasi Kaisar Kayu, warisan Jiang Dongjun kemungkinan besar tidak kalah dari para orang suci jalur kemanusiaan. Namun, tujuan utama seorang Utusan Dewa adalah menyebarkan ajaran dewa. Jangankan memikirkan apakah Istana Surgawi dapat menerimanya, sebelumnya saja Li Buzhuo bahkan menolak ilmu pedang orang suci yang terkandung dalam aksara pedang sabda suci, bagaimana mungkin ia merelakan ilmu pedangnya sendiri.
"Aku sudah tahu kalau kau tidak akan bersedia," ujar Jiang Dongjun sambil tersenyum tipis melihat Li Buzhuo yang tampak merenung. "Kau tidak perlu merasa serba salah. Aku menanyakan hal ini semata-mata untuk menguji keteguhan hatimu. Cukup, antarkan aku sampai di sini saja."
Hari ini kita berpisah, sungguh aku tak sabar menantikan seperti apa rupa dirimu saat kita bertemu lagi kelak. Janganlah kau menjadi seperti orang bermarga Zhao yang lenyap tanpa kabar.
Pada saat ini, kereta telah tiba di dekat pelabuhan Kabupaten Hedong. Li Buzhuo menghentikan laju keretanya.
Jiang Dongjun memiliki paras yang memukau, entah ilmu apa yang digunakannya, para pejalan kaki di tepi jalan tidak meliriknya dengan tatapan berlebih dan ia pun berjalan membaur begitu saja ke tengah kerumunan.
…………
Di dalam Kantor Lingguan, Cao Yan memerintahkan para pesuruh untuk memproses pengunduran diri Li Buzhuo dari jabatannya sebagai pejabat rendahan, serta menyerahkan meterai resmi, pakaian dinas, dan kediaman di biro persuratan untuk diserahterimakan kepada juru tulis pemegang meterai berikutnya.
Setelah mempersilakan Li Buzhuo duduk, Cao Yan diliputi berbagai perasaan. Hanya dalam waktu beberapa bulan saja, ia menyaksikan dengan mata kepalanya sendiri bagaimana Li Buzhuo melangkah dari seorang pejabat rendahan di kabupaten hingga dianugerahi gelar bangsawan. Tentu saja mustahil jika di dalam hatinya tidak ada rasa iri. Akan tetapi, Cao Yan yang telah menduduki jabatannya selama lebih dari sepuluh tahun tanpa pernah membiarkan Kabupaten Hedong mengalami kekacauan besar mengandalkan kesadaran diri. Ia tahu betul bahwa gelar bangsawan itu diraih oleh Li Buzhuo dengan usahanya sendiri, sehingga rasa iri itu tidak ada gunanya.
Cao Yan adalah seorang sarjana ujian prefektur pada enam belas tahun silam ketika segala sesuatu baru mulai dibangun kembali. Ia terpilih dalam seleksi ketat di Istana Sian Tian, dan barulah ia diangkat menjadi seorang Lingguan. Pada masa itu, sistem Istana Surgawi masih memiliki banyak celah, sistem ujian kekaisaran pun belum sempurna, dan tingkat kemampuan para peserta ujian sangat beragam. Cao Yan tergolong sebagai peserta di tingkat menengah. Hingga saat ini, ilmu olah energi internalnya bahkan belum berhasil menembus ranah keselarasan Zhou Tian. Kualifikasinya sebagai seorang sarjana tentu tidak sebanding dengan kedudukan Li Buzhuo yang keluar sebagai juara pertama. Terlebih lagi, Li Buzhuo kini hendak mengikuti ujian prefektur dengan masa depan yang amat cerah, sehingga mereka berdua sudah tidak lagi berada di level yang sama.
Untunglah Cao Yan adalah sosok yang berhati-hati. Meskipun di masa lalu ia sempat merasa sedikit tidak percaya kepada Li Buzhuo, ia tidak pernah memperlihatkannya secara terang-terangan. Saat ini, duduk di ruangan yang sama dengan Li Buzhuo, suasananya sama sekali tidak terasa canggung. Setelah mengucapkan selamat atas dianugerahinya gelar bangsawan kepada Li Buzhuo, tiba-tiba ia mengeluarkan selembar surat utang emas dan menyerahkannya kepada Li Buzhuo.
…………
"Hmm?" Li Buzhuo menerima surat utang emas itu dan melihatnya. Ada lima lembar semuanya, masing-masing bernilai nominal dua puluh keping emas.
Cao Yan tersenyum dan berkata, "Kemarin, ketika aku membicarakan urusan kedinasan dengan Shunzhi, kami sempat menyinggung tentang dirimu, Marquis Pemotong Pedang. Shunzhi berkata bahwa ketika kau mengambil alih kediaman anggur milik keluarga Yao, keluarga Yao masih memiliki sedikit utang kepadamu, dan ia menitipkannya kepadaku untuk diserahkan kepadamu."
"Kenapa Yao Shunzhi tidak datang sendiri?" Li Buzhuo menyentil lembaran emas tersebut.
"Shunzhi memiliki sedikit ketidakharmonisan denganmu, jadi kurang pantas jika ia datang sendiri," jawab Cao Yan sambil tertawa kecil. "Menurutku, segala perselisihan di antara kalian berdua sebaiknya dilupakan saja. Keluarga Yao adalah klan terkemuka di Kabupaten Hedong. Kakek Tua Yao pada masa dinasti sebelumnya pernah menjabat sebagai Pengawas Senjata Kerajaan tingkat empat. Bagi keluarga Yao untuk bisa bertahan hingga sejauh ini, bukanlah hal yang mudah."
Li Buzhuo memperhatikan lembaran-lembaran emas itu. Saat ini ia sudah tidak terlalu kekurangan uang. Keluarga Yao sekarang mengembalikan keuntungan kediaman anggur itu, dan tindakan ini jelas-jelas merupakan bentuk niat baik. Namun, keluarga Yao justru meminta tolong kepada Cao Yan untuk mengurus urusan ini tanpa mengirimkan orang mereka sendiri. Tampaknya, di mata mereka, bobot dirinya sebagai seorang Marquis Pemotong Pedang yang baru diangkat masih belum cukup berat.
Ia memasukkan tiga lembar surat utang emas ke dalam jubahnya dan mengembalikan dua lembar sisanya kepada Cao Yan. Li Buzhuo berkata, "Tolong sampaikan pesan kepada Yao Shunzhi untukku, uang ini sebagai ucapan terima kasih atas bantuan keluarga Yao yang telah mengelola kediaman anggurku selama tahun-tahun lalu."
…………
Di dalam Toko Besi Wu Ji, palu besi menghantam batang besi yang membara secara berulang-ulang. Suara dentingan berderap tanpa henti, namun sama sekali tidak terdengar bising, melainkan memiliki irama yang sangat teratur.
Wu Han menghentikan pekerjaan menempa besi yang sedang dilakukannya, beristirahat sejenak, lalu menoleh ke arah sudut ruangan.
Permukaan beberapa batang besi yang tertumpuk di sana tampak kehitaman, dan samar-samar terlihat pola garis-garis darah yang tersembunyi. Hati Wu Han bergetar, dan ia pun mengalihkan pandangannya, tidak berani melihatnya lagi.
"Aku ingat sebelumnya kau pernah bilang ingin pergi jauh ribuan li untuk mencari seorang guru. Bagaimana, surat izin biksu dari Kantor Lingguan masih belum turun juga?"
Suara itu terdengar dari arah pintu masuk.
Wu Han menoleh dan mendapati Li Buzhuo berdiri di sana, terkejut bercampur gembira.
Beberapa waktu belakangan ini, Wu Han telah mendengar kabar bahwa Li Buzhuo mendapat penghargaan dari Istana Surgawi dan dianugerahi gelar bangsawan. Ia tahu bahwa pemuda yang berdiri di hadapannya dan seusia dengan dirinya itu kini telah menjadi seorang marquis di suatu wilayah.
Begitu memikirkan hal itu, hati Wu Han pun menjadi tenang. Peristiwa pembunuhan dan pembakaran mayat di masa lalu juga melibatkan Li Buzhuo. Sekarang Li Buzhuo bahkan telah menjadi marquis, membuat Wu Han semakin yakin bahwa pemuda itu mampu meredam masalah tersebut.
"Surat izin biksu itu bahkan tidak bisa dijumpai batang hidungnya oleh para pejabat rendahan," keluh Wu Han dengan nada prihatin.
"Pengawasan sudah sedemikian ketatnya?" Hati Li Buzhuo tergerak. Semula ia berniat mengatakan akan membantu menegur pejabat urusan surat-menyurat itu, tetapi kemudian ia berpikir kembali. Dengan kemampuan Wu Xin, mustahil selembar surat izin biksu bisa menjadi hal yang sulit baginya, maka ia pun mengurungkan niat untuk ikut campur dan bertanya, "Di mana gurumu?"
"Guru berada di dalam ruangan terus selama beberapa hari ini, selain untuk makan hampir tidak pernah keluar rumah, bahkan aku pun tidak diizinkan masuk. Aku hanya mendengar suara seperti sedang mengasah senjata apa gitu," Wu Han melirik ke arah pintu belakang. "Anda datang di saat yang tepat, aku akan pergi memberitahu guru sekarang."
"Tidak perlu." Li Buzhuo mengangkat tangan, menghentikan Wu Han agar tidak pergi ke sana. "Hari ini aku hendak meninggalkan Hedong, itulah sebabnya aku datang untuk melihatmu dan gurumu. Karena Tuan Wu sedang sibuk, aku tidak akan mengganggunya."
Setelah berpamitan dengan Wu Han, Li Buzhuo berjalan sejauh seratus langkah meninggalkan toko besi tersebut. Ia meraba kitab pedang Danqing di dalam jubahnya dan mengirimkan niat batin kepada Lima Belas, yang telah tampak gelisah sejak ia mulai mendekati Toko Besi Wu Ji.
"Lima Belas, ada apa?"
"Ada pedang bagus, di dalam ada pedang yang sangat bagus..."
"Bagaimana jika dibandingkan dengan Cicak Jing?"
"Lima Belas tidak... belum pernah mendekati pedang sebaik itu..."
Lima Belas mendeskripsikannya dengan pilihan kata yang sangat minim dan hambar.
Mendengar itu, hati Li Buzhuo tergerak. Ia menoleh kembali ke arah dalam toko besi, dari kejauhan tampak Wu Han sedang mengangkat palu besi, sementara barang-barang yang dipajang dan dijual di toko itu sebagian besar masih berupa perkakas pertanian biasa.
"Cicak Jing bukanlah pedang yang buruk di antara senjata buatan para empu pandai besi. Senjata yang bahkan lebih baik dari itu... Wu Xin benar-benar seorang empu dewa pandai besi. Siapa sangka di dalam toko besi sekecil ini, tersimpan sebuah senjata dewa?"