Seratus Tiga Puluh Delapan: Pencari Jalan
Halaman 1 dari 3
Waktu berlalu begitu saja. Setelah diguyur “hujan musim semi” yang datang tiba-tiba, seluruh salju di Gunung Jumang telah lenyap, sementara rerumputan dan pepohonan tumbuh subur.
Di kaki lereng selatan, sebuah sungai kecil yang mengalir melewati ladang tampak jernih hingga ke dasarnya. Airnya dialirkan melalui kincir air untuk mengairi sawah, membuat seluruh desa dipenuhi semangat kehidupan.
Selama lima hari terakhir, beredar desas-desus di dalam perkebunan arak bahwa Li Bujo menyembunyikan seorang kekasih di rumah. Penyebabnya adalah ia menyuruh orang mengantarkan beberapa set pakaian, sepatu, dan kaus kaki perempuan.
Hari itu, Li Bujo berdiri di puncak Gunung Jumang. Ia memandangi sosok Jiangdong Jun di tepi tebing yang telah tumbuh menjadi seorang gadis. Keindahannya tiada tara dan ia berdiri seorang diri, seolah jika melangkah sekali saja melewati tebing, ia akan menunggang angin dan pergi.
Dalam beberapa hari saja, Jiangdong Jun seorang diri telah menghabiskan lebih dari separuh persediaan pangan yang cukup untuk memberi makan tiga belas orang di seluruh perkebunan selama satu musim. Ia bahkan mengunyah pil inti esensi kecil yang disimpan Li Bujo layaknya kacang gula. Hanya dalam lima hari, ia berubah dari bayi perempuan dalam bedongan menjadi gadis berusia enam belas tahun.
Seandainya sebelumnya Li Bujo tidak sempat merampas sejumlah harta dari Perkebunan Seratus Satwa, seluruh kekayaannya mungkin telah tandas dimakan Jiangdong Jun.
“Pergantian empat musim memang hukum alam. Tanpa pembunuhan musim gugur dan penyimpanan musim dingin, langit dan bumi tidak akan memperoleh kesempatan beristirahat. Ketika musim semi tiba dan segala sesuatu bangkit kembali, kekuatannya pun tidak akan cukup untuk berlanjut. Namun, ketika aku menggunakan kesaktian Guntur Pertama untuk membuat musim semi datang lebih awal di kaki gunung, itu bukanlah tindakan memaksa bibit tumbuh. Meski wujud rohaniku lemah dan kekuatan dewaku tak lagi seberapa, melindungi wilayah beberapa belas li di sekitar Gunung Jumang bukanlah hal sulit. Tahun depan, kaki gunung ini pasti akan mengalami panen melimpah. Anggap saja itu sebagai balasan atas dupa dan pemujaan mereka.”
Jiangdong Jun berdiri di tepi tebing sambil memandang kaki gunung. Setelah berkata demikian, ia menoleh kepada Li Bujo.
“Ngomong-ngomong, setelah mengamati kesaktianku, seberapa jauh pemahamanmu? Dahulu, setelah setengah bulan, Zhao Changqing sudah mampu membuat pohon mati berbunga. Ia bahkan seenaknya memberi nama pada kesaktian itu: Bunga Mekar Sekejap. Hmph, kalau bukan karena kau berkata bahwa ia telah meninggal, setelah turun gunung aku sebenarnya hendak mencarinya untuk membereskan urusan kami.”
“Aku memang memperoleh sedikit pemahaman, tetapi belum mampu menciptakan kesaktian sendiri seperti Pendeta Changqing.”
Hati Li Bujo dipenuhi rasa kagum. Hanya dengan melihat ukiran batu di dalam gua, ia sudah dapat merasakan betapa luar biasanya bakat Zhao Changqing dahulu.
Setelah mencoba menafsirkan kesaktian itu, rasa hormatnya kepada Zhao Changqing pun semakin dalam.
“Itu bukan hal yang aneh. Bagaimanapun, saat itu ia sudah setengah langkah menuju tingkat mahaguru. Dalam hal pemahaman terhadap jalan kultivasi, ia telah jauh melampauimu. Namun, menurut penilaianku, dengan bakatnya ia seharusnya mampu mencapai alam suci. Kau bilang ia telah meninggal—sungguh aneh.”
Jiangdong Jun menghela napas penuh perasaan. Tiba-tiba ia mengeluarkan seruan pelan dan berjalan ke dalam gua.
Li Bujo tahu bahwa kemungkinan besar Jiangdong Jun telah merasakan seseorang memasuki wilayah dewanya di sekitar kaki Gunung Jumang, maka ia pun mengikutinya.
Dupa yang ditancapkan di dinding batu gua belum habis terbakar. Jiangdong Jun mengangkat tangan dan menarik seutas asap putih berpilin ke ujung jarinya, lalu mengguratkan lingkaran kosong di depan dada.
Sesaat kemudian, di dalam asap putih itu muncul pemandangan kaki gunung.
Krek!
Halaman 1 dari 3
Halaman 2 dari 3
Sepasang alas kaki usang yang telah menempuh ribuan gunung dan sungai mengibaskan salju serta debu dari luar gunung, lalu menginjak kaki Gunung Jumang yang baru saja ditumbuhi tunas-tunas hijau.
Pemilik alas kaki itu adalah seorang pemuda. Ia mengikat erat kain pelindung betisnya dan, di tengah musim dingin, hanya mengenakan jubah pendeta yang tipis. Rambutnya pun sekadar diikat sederhana. Pakaian yang serba bersahaja itu justru semakin menonjolkan keteguhan dalam tatapannya.
Tatapan itu sedang mengarah ke puncak Gunung Jumang.
Li Bujo melihat pemuda itu, lalu melihat dua orang yang berjalan bersamanya. Raut terkejut melintas sesaat di wajahnya.
“Dia?”
……
“Dalam catatan perjalanan yang ditulis leluhurku, semua tempat yang ia lewati di Enam Belas Prefektur Fuli dicatat dengan sangat terperinci. Hanya perjalanan di wilayah Hedong, Youzhou, yang ditulis dengan samar. Padahal, di wilayah Hedong ia justru tinggal paling lama—selama tiga tahun penuh. Saat itu, leluhurku telah mencapai tingkat setengah mahaguru dan cukup termasyhur. Namun, baik dari catatan daerah Kabupaten Hedong maupun dari keterangan para sahabat leluhurku di tempat ini, tak seorang pun dapat mengetahui apa yang sebenarnya ia lakukan selama tiga tahun tersebut.”
Di kaki Gunung Jumang, Zhao Chengyang mendongak menatap puncak yang jauh. Ia mengembuskan napas panjang, uap putih melayang dari mulutnya, meninggalkan badai salju di belakang.
Pendeta Changqing memang tidak meninggalkan keturunan, tetapi ia masih memiliki orang tua dan seorang kakak laki-laki. Sebagai keturunan utama keluarga Zhao pada masa kini, Zhao Chengyang meninggalkan rumah untuk melakukan perjalanan menjelang ujian pemerintahan tingkat prefektur. Berdasarkan catatan perjalanan yang ditinggalkan Pendeta Changqing, ia menjelajahi gunung-gunung termasyhur dan sungai-sungai besar, sekaligus menelusuri kembali jalan pencarian Tao yang pernah ditempuh Zhao Changqing. Pada akhirnya, ia menemukan Gunung Jumang.
“Leluhur kita pernah menerima petunjuk dari seorang dewa. Hal ini tercatat dalam Arsip Pertapaan Kecil. Menurut catatan perjalanan yang tersimpan sebagai pusaka keluarga Zhao, ketika menerima petunjuk dari sang dewa, leluhur juga meninggalkan pemahaman kultivasinya di tempat pertapaan tersembunyi itu. Selama setengah bulan ini, kita bertiga telah menjelajahi seluruh gunung dan sungai termasyhur di Hedong. Kunshuang, Wenyun, menurut pendapatku, dari semua tempat yang tersisa, Gunung Jumang inilah yang paling mungkin menjadi tempat pertapaan leluhur kita dahulu.”
Sambil berkata demikian, Zhao Chengyang menoleh kepada kedua rekannya.
Sebagai murid generasi keenam Pertapaan Guwei, Zhao Chengyang semestinya memanggil Li Kunshuang dengan sebutan kakak seperguruan. Namun, karena hubungan mereka dekat, panggilan resmi itu ditiadakan.
Dalam perjalanan Zhao Chengyang menyusuri Hedong kali ini, kebetulan Pasar Hantu sedang ditutup. Li Kunshuang, yang biasanya menjabat sebagai Jenderal Penenteram Jiwa tingkat delapan di Pasar Hantu, sedang pulang bersama ibunya ke Kabupaten Hedong untuk mengunjungi kerabat. Karena itu, ia bersama Zhao Chengyang dan He Wenyun—tiga pemurni qi Istana Langit dari perguruan yang sama—keluar melakukan perjalanan mencari Tao dan saling menguji pemahaman kultivasi.
“Tempat ini benar-benar aneh.” He Wenyun memandang Gunung Jumang. Saat itu akhir musim dingin, dan salju masih belum mencair, tetapi di Gunung Jumang rerumputan serta bunga tumbuh lebat, seakan-akan musim semi telah tiba. Ia tak kuasa menahan rasa kagum. “Aku memang tinggal di Hedong, tetapi selama ini sama sekali tidak tahu ada tempat seindah ini. Sungguh memalukan.”
“Sekarang kau sudah melihatnya, bukankah itu kejutan yang menyenangkan?” kata Li Kunshuang kepada He Wenyun. “Kalau begitu, mari kita naik.”
“Baik.”
“Silakan ikuti aku.”
Halaman 2 dari 3
Halaman 3 dari 3
He Wenyun dan Zhao Chengyang berkata hampir bersamaan.
Ketika mereka bertiga mendaki gunung, mereka membicarakan keadaan terkini di Youzhou.
“Belakangan ini, Kabupaten Hedong dipenuhi berbagai kekuatan. Situasinya berliku dan penuh tipu daya. Para murid Perguruan Xu, keluarga Fu dari kaum ahli siasat, keluarga Feng dari kaum militer, serta sisa-sisa pasukan Burung Naga dan Pipit telah berkumpul di sini. Wenyun, karena kau berada di Kabupaten Hedong, kau harus tahu cara menjaga diri.”
“Delapan kekuatan dari berbagai penjuru itu masing-masing memiliki tujuan. Sebagian besar tampaknya berkaitan dengan Leluhur Suci Wuwudi dari Xia Agung. Kudengar ketika Wuwudi gugur, ia meninggalkan sebuah Kitab Tata Dunia Huangji. Di dalamnya terkandung arah aliran aura bencana yang telah menyelimuti Fuli selama seribu tahun. Jika memperoleh kitab itu, seseorang bukan hanya dapat mencari keuntungan dan menghindari malapetaka, tetapi bila mampu menyerap aura bencana Fuli, ia bahkan dapat memurnikan jiwa dan membasuh wujud sejatinya.”
“Kitab Tata Dunia Huangji yang disebut-sebut itu telah muncul dalam puluhan salinan. Mana yang benar dan mana yang palsu masih belum dapat dipastikan. Tujuan berbagai kekuatan itu jelas tidak mungkin hanya demi kitab tersebut. Kalau dikatakan mereka sedang mencari harta karun untuk memulihkan negeri lama, aku masih bisa percaya sepertiganya. Aku pernah mendengar sedikit kabar: keluarga Fu dari kaum ahli siasat dan keluarga Feng dari kaum militer dahulu bermusuhan akibat pertikaian internal dua puluh tahun lalu. Namun belakangan ini, tampaknya kedua keluarga itu telah mencapai kesepakatan dan hendak membentuk persekutuan.”
“Betapa bebasnya melakukan perjalanan menyusuri gunung dan sungai. Hmm, suara apa itu?”
Saat berbicara, Zhao Chengyang tiba-tiba berhenti. Dari kejauhan terdengar suara gemuruh disusul bunyi air yang berderai.
Ketiganya saling bertukar pandang.
“Mari kita lihat.”
Mereka bertiga mengikuti sumber suara. Di hadapan mereka tampak sebuah tebing biru jernih, dengan empat aksara yang terukir di permukaannya: Mata Air Terbang Tulang Naga.
Di bawah tebing berdiri sebuah kincir air raksasa berbentuk tulang naga yang amat mencolok. Alas kincir itu berupa patung Baxia yang dibuat begitu hidup hingga semakin mengundang rasa takjub.
“Itu poros Baxia? Benda seperti ini muncul di tengah pegunungan liar dan hutan terpencil. Sepertinya ada seorang pemurni qi yang tinggal menyepi di sini,” kata Zhao Chengyang.
Mendengar itu, hati He Wenyun tergerak.
Belakangan ini, kabar bahwa Li Bujo telah dua kali meraih jasa besar di Kabupaten Hedong tentu sudah sampai ke telinganya. Ia juga mendengar bahwa perkebunan arak milik Li Bujo tampaknya berada di kaki Gunung Jumang.
Halaman 3 dari 3