Jilid Satu Malam Panjang di Langit Bab Lima Memasuki Pertapaan
Malam begitu pekat, sinar rembulan menerangi jalan setapak yang berliku. Seekor keledai menarik kereta dengan peti mati hitam yang berhenti di tepi jalan. Seorang kakek bermantel lusuh bangkit dari semak-semak di pinggir, lalu mengencangkan ikat pinggangnya.
“Kau begini pun ada untungnya, setidaknya tak perlu buang air, bukan?”
Seolah berbicara pada dirinya sendiri, sang kakek melompat ke atas kereta kayu, menyingkap peti mati hitam itu dengan satu telapak tangan, seperti biasa ia menelusuri nadi, mengarahkan aliran energi dalam tubuh.
Namun tetap saja, segalanya seperti air yang hilang ke dasar lautan.
Tiba-tiba kakek itu terkekeh pelan.
“Nampaknya tak berhasil. Anak muda ini telah menutup pintu hatinya. Apa pun yang kulakukan, baginya aku tak lebih dari angin lalu.”
Ia menggeleng, hendak menutup kembali peti mati, saat angin malam tiba-tiba bertiup, suhu udara mendadak turun beberapa derajat, daun-daun kering di jalan berputar-putar seperti sekelompok makhluk gaib menari.
Gumpalan kabut putih perlahan mengerumuni peti mati hitam itu. Jika ada orang yang lewat malam itu, pasti akan dibuat lari terbirit-birit karena ketakutan.
Kakek itu mengusap hidungnya dan bergumam tak jelas, “Sialan, kalian para arwah gentayangan, tak ada kerjaan lain selain cari perkara.”
Tanpa terlihat gerakan apa pun, mendadak jaket lusuh kakek itu menggembung, aliran energi yang dahsyat seperti sungai yang menggelegak, langsung menghancurkan kabut-kabut putih yang hendak mendekat.
Ia menengadah memandang bulan, menghela napas panjang.
...
Wihara Awan Ungu berdiri di ujung utara Kota Cangzhou, berbatasan dengan Kabupaten Su Feng dan Kabupaten Kan Er. Di sekeliling wihara, hutan bambu melingkar bak bintang mengelilingi rembulan. Di depan wihara terbentang kolam teratai tempat melepas makhluk, dan bila musim panas tiba, bunga-bunga teratai bermekaran membawa nuansa kedamaian Buddha yang menentramkan hati.
Wihara Awan Ungu kini diasuh oleh Bhiksuni Jing Xian, yang disebut-sebut sebagai pemilik akar kebijaksanaan terdalam oleh Kepala Biara Da Yun dari Kuil Dhyana Pertama. Kebetulan, istri-istri para bupati di dua kabupaten tersebut adalah penganut Buddha yang taat. Segala hal, dari urusan karier suami hingga pilek dan batuk sendiri, mereka selalu datang ke sini untuk berdoa dan menyalakan dupa. Entah sejak kapan, tersiar kabar bahwa Dewi Guanyin Pemberi Anak di wihara ini sangat mujarab. Lama-lama, dupa di wihara semakin semarak.
Pagi itu, seorang kakek berambut putih masuk dengan santai ke halaman wihara, satu tangan menahan celana, yang lain menuntun keledai. Beberapa perempuan saleh yang sedang menyalakan dupa pagi-pagi langsung ketakutan, namun sang kakek tak peduli apakah ia mengganggu para Buddha yang sedang bertapa.
...
Di pelataran latihan Pedang Keluarga Liang, dari seratus lima puluh lebih murid tingkat kuning, sudah lebih dari separuh yang tumbang. Sementara di pihak murid tingkat xuan, belasan juga telah tergeletak, sisanya pun kebanyakan sudah terengah-engah, jauh dari kata tenang dan mantap. Semua ini lantaran aliran energi dalam tubuh mereka terlalu deras, energi baru belum sempat terbentuk, energi lama sudah terkuras habis. Ibarat sungai yang mengalir deras, sebagian besar air akan hilang di tengah perjalanan. Namun langit dan bumi selalu menyeimbangkan kekurangan dan kelebihan. Jika tidak, akan terjadi kekeringan. Begitu pula dengan para pendekar, prinsipnya hampir sama.
Tangan kanan Du Qingsong yang memegang pedang bergetar halus, keringat membasahi wajahnya yang tegas. Sebenarnya, sebagai pembawa bendera kuning, ia seharusnya dilindungi rekan-rekan setingkatnya. Namun entah kenapa, ia seperti kerasukan, menerjang sendirian ke barisan lawan. Murid tingkat kuning lainnya pun tak punya pilihan selain mengikuti. Akibatnya, para murid tingkat xuan sempat kelabakan. Sepanjang sejarah pertarungan dua bendera, belum pernah ada pembawa bendera kuning yang seberani ini.
Murid-murid yang terluka segera dibantu keluar oleh beberapa tabib keluarga Liang. Kakak senior mereka, Liang Hai, juga sudah bermandi peluh. Ia tak tega melukai para juniornya. Meski penguasaan energi dalam tubuhnya jauh lebih tinggi dan ilmu pedangnya jauh lebih matang, tetap saja, satu demi satu serangan harus ia tahan. Sebagai pembawa bendera xuan, ia justru menjadi sasaran utama serangan murid kuning. Jika biasanya para murid tingkat kuning tak mungkin seagresif ini, namun di bawah komando Du Qingsong, darah muda mereka membara.
Du Qingsong kembali mengangkat pedangnya dari kejauhan, ujungnya menunjuk ke arah Liang Hai. Liang Hai tersenyum tipis, balik mengacungkan pedang ke arah Du Qingsong.
Sementara ketegangan meningkat di antara mereka, di sisi lain, adik perempuan Liang, Liang Yuyan, tubuhnya sudah basah keringat, pakaian merah mudanya menempel di badan. Seorang murid tingkat xuan bernama Situ Zhufeng yang sedari tadi berusaha menghindari pertempuran, justru semakin mendekatinya.
Du Qingsong, dengan suara pedangnya yang mendesing, melesat lebih dulu menyerang Liang Hai. Tujuh puluh lebih murid yang masih mampu bertarung pun mengikuti dari belakang, menyerbu bagai pasukan kacau.
Di bawah serambi depan aula utama, Kepala Pedang Liang Tianshi menatap penuh kagum, lalu berbisik kepada Liang Hailan di sampingnya, “Di dunia ini banyak pendekar pedang, tak sedikit yang berbakat dan cepat naik tingkat. Namun yang benar-benar menjadi unggulan bukanlah mereka yang melaju mulus. Mereka hanya mengasah teknik, tak memahami makna sejati pedang. Begitu mencapai satu tingkat, mereka menemui jalan buntu. Sebaliknya, ada yang lambat naik tingkat, tapi lebih memahami kehendak pedang. Hati yang ingin menebas ketidakadilan, itulah yang paling berharga.”
Lei Ruoji dan Liang Tiancheng saling pandang, sementara Liang Zhilan tampak mengerti.
“Abang maksud, murid bernama Du Qingsong itu, meski tingkatannya rendah, sudah menyentuh gerbang makna pedang?” tanyanya.
Liang Tianshi tertawa lebar, tak menjawab tegas.
Keahlian Liang Tianshi bertahan di dunia persilatan Nanzhao bukan hanya karena tingkatannya yang tinggi, tapi juga pemahamannya yang mendalam tentang jalan pedang. Menurutnya, pendekar yang hanya mengumpulkan tenaga dalam memang bisa mendaki puncak yang tinggi, namun jika ingin melanjutkan, dibutuhkan pemahaman dan kehendak batin yang kuat.
Du Qingsong menusukkan pedangnya ke wajah Liang Hai. Serangan itu secepat kilat, membuat Liang Hai yang tingkatannya lebih tinggi pun ketakutan.
Tenaga dalam tingkat satu milik Liang Hai langsung mengalir ke seluruh tubuhnya. Ia mundur, menangkis serangan Du Qingsong, lalu memutar pedang dan membalas. Du Qingsong menunduk, melesat ke depan, memanfaatkan tubuhnya yang lebih pendek untuk menghindari serangan, lalu menusukkan pedang ke perut Liang Hai.
Liang Hai mulai marah, pedangnya diayunkan ke bawah.
Pedang tanpa ujung itu menghantam punggung Du Qingsong, membuat tubuhnya seperti dipukul palu berat.
Du Qingsong menahan sakit, darah menetes di sudut bibirnya.
Seluruh tenaga dalam ia kerahkan ke ujung pedang dan kembali menusuk perut Liang Hai, membuat Liang Hai mundur beberapa langkah dengan wajah pucat.
Saat berdiri tegak, sorot mata Liang Hai yang biasanya ramah kini berubah dingin.
“Mengapa harus saling menghancurkan?”
Du Qingsong menggertakkan gigi, “Kau tahu alasannya.”
Liang Hai menatapnya, pandangannya perlahan berubah jadi sinis.
Setelah murid-murid tingkat kuning menyerbu beramai-ramai, tiga puluh lebih murid tingkat xuan yang tersisa pun kalang kabut menghadapi mereka. Para kakak senior ini, meski penguasaan mereka jauh lebih matang, tak sampai hati mengerahkan seluruh kekuatan pada para adik, sehingga pertarungan berlangsung canggung. Sementara tahun ini, di bawah kepemimpinan Du Qingsong, semangat para murid tingkat kuning benar-benar membara. Ibarat orang dewasa melawan sekelompok anak kecil, tak tega melukai, tapi harus menahan serangan mereka sekuat tenaga.
Liang Yuyan menusukkan pedangnya ke kaki seorang murid perempuan tingkat kuning. Gadis itu baru saja bergabung, kekuatannya pun masih rendah. Keluarga Pedang Liang memang lebih banyak laki-laki, sehingga murid perempuan yang meski hanya berwajah manis, sudah dianggap menarik. Gadis itu langsung berjongkok, hampir menangis. Liang Yuyan hanya bisa tersenyum kecut.
Para pemuda tingkat kuning yang melihat kejadian itu, meski mengagumi sang kakak senior, menganggapnya seperti dewi yang tak terjangkau. Sebaliknya, gadis murid yang duduk menangis itu seperti permata dunia nyata. Dua murid laki-laki tingkat kuning pun langsung menyerang Liang Yuyan. Liang Yuyan yang terganggu oleh tangisan sang adik, lengah dan terkena sabetan di bahu. Tubuhnya terhuyung seperti ranting willow tertiup angin.
Tanpa sengaja, ia menabrak sesuatu yang empuk. Situ Zhufeng yang sedari tadi seperti anjing liar mengincar mangsa, tak menyia-nyiakan kesempatan. Ia merangkul bahu Liang Yuyan, tubuhnya bergerak ke samping, dan gadis itu pun terjatuh dalam pelukannya. Dari atas, Situ Zhufeng memasang senyum percaya diri, “Jangan takut, ada kakak di sini.”
Liang Yuyan kaget, ternyata yang memeluknya adalah murid berjuluk “Landak”, murid paman Liang Tiancheng. Sekujur tubuhnya langsung merinding. Selama ini, memang Situ Zhufeng tak berbuat jahat, sekadar menggoda beberapa murid perempuan. Pada putri kepala pedang, Liang Yuyan, ia lebih menjaga diri dan hanya berani melirik dari kejauhan.
Namun bagi Liang Yuyan, murid gemuk yang setiap kali menatapnya selalu penuh nafsu itu justru membuatnya ilfil.
Bagaikan melihat hantu, Liang Yuyan meloncat dari pelukan Situ Zhufeng, lalu mengayunkan pedang dengan seluruh tenaga. Meski tubuhnya dilindungi lapisan lemak setebal murid tingkat langit, tetap saja ia langsung pingsan saat lehernya terkena sabetan pedang.
Saat Liang Yuyan tersadar, ia dan dua murid laki-laki yang tadi menyerangnya saling pandang, sama-sama canggung.
Di saat bersamaan, Liang Hai meraih bendera kuning dari punggung Du Qingsong yang sudah terkapar. Pertarungan dua bendera pun resmi berakhir.
Namun melihat beberapa robekan di baju putih dan wajah kelam Liang Hai, jelas kemenangannya tidaklah mudah. Terlebih setelah duel hari ini, ia harus menjalani hukuman bertapa di Tebing Pedang selama tiga tahun tanpa turun gunung. Memikirkan hal itu, hatinya terasa berat. Namun semua itu terasa pantas. Saat ia hendak berbalik, kebetulan melihat kelakuan tidak sopan Situ Zhufeng. Suasana hatinya yang sudah buruk, kian memburuk lagi.